Bisnis.com, ACEH - Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) di wilayah lepas pantai (offshore) menghadapi tantangan unik yang tidak dialami oleh operasional di daratan (onshore). Salah satu operator utama, Pertamina Hulu Energi North Sumatra Offshore (PHE NSO), yang telah beroperasi sejak 1999 di Laut Aceh, Selat Malaka, terus menjaga keberlanjutan produksi migas meskipun menghadapi kendala teknis dan lingkungan di lapangan.
Beroperasi di kawasan laut memiliki tantangan tersendiri, apalagi fasilitas produksi yang telah mencapai usia 25 tahun ini memiliki kompleksitas operasional. Hal ini memerlukan strategi khusus dalam perawatan dan peningkatan (upgrading) peralatan.
“Kami terus melakukan studi subsurface untuk memperpanjang usia sumur (reservoir) sekaligus meningkatkan produksi,” ungkap Field Manager PHE NSO, Heri Prayogo, saat kunjungan Bisnis Indonesia dalam rangka Jelajah Migas Sumut-Aceh 2024. Acara ini didukung oleh beberapa KKKS Sumbagut, termasuk EMP Tonga, EMP Gebang, Pertamina EP Pangkalan Susu, Pertamina EP Rantau, Harbour Energy, dan Pertamina Hulu Energi NSO.
Cuaca juga menjadi salah satu kendala yang perlu diperhitungkan. Kondisi cuaca ekstrem dapat mengganggu jadwal pergantian pekerja (crew change) serta pengiriman material mendesak. Selain itu, keamanan operasi juga menjadi perhatian utama, baik terkait pengecekan dan sertifikasi rutin alat, maupun tantangan situasi di eksternal seperti adanya aktivitas nelayan di sekitar platform.
Strategi dan Inovasi PHE NSO dalam Menghadapi Tantangan
PHE NSO menghadapi berbagai tantangan operasional dengan mengadopsi strategi dan inovasi di berbagai bidang. Langkah-langkah yang dilakukan dirangkum dalam empat fokus utama:
Komitmen terhadap Keselamatan dan Pengembangan Masa Depan
PHE NSO menunjukkan komitmennya terhadap keselamatan kerja dengan mencatat capaian luar biasa yaitu 12.400.945 jam kerja selamat sejak Oktober 2015 hingga akhir 2024 tanpa insiden. Pencapaian ini menjadi bukti nyata keberhasilan perusahaan dalam menjaga operasi yang selamat, aman dan andal. Selain itu, langkah inovatif PHE NSO juga mendapatkan pengakuan melalui anugerah Subroto Awards 2024 di bidang Efisiensi Energi serta ECO Tech Pioneer and Sustainability Award atas kontribusinya terhadap keberlanjutan energi.
Kepedulian PHE NSO terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar tercermin dari berbagai program yang mengedepankan prinsip keberlanjutan. Pada tahun 2024, perusahaan berhasil meraih penghargaan Nusantara CSR Award, Indonesia Social Responsibility Award, dan TJSL/CSR Awards. Komitmen tersebut semakin diperkuat dengan pencapaian predikat PROPER HIJAU dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) atas pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab.
Ke depan, PHE NSO berfokus pada eksplorasi dan pengembangan wilayah baru sebagai bagian dari strategi keberlanjutan. Setelah menyelesaikan pengeboran 3 sumur eksplorasi pada 2021, 2 diantaranya terbukti memiliki kandungan hidrokarbon yang signifikan. Saat ini, perusahaan sedang dalam fase studi ekonomi untuk menentukan portofolio pengembangan dengan target realisasi pada 2030.
“Kami memahami bahwa pengelolaan offshore, terutama di laut dalam, membutuhkan pendekatan yang berbeda dalam hal tenaga kerja, teknis, biaya, dan teknologi,” jelas Heri Prayogo. Saat ini PHE NSO sedang dalam fase studi ekonomi untuk menentukan portofolio pengembangan dengan target realisasi pada tahun 2030 mendatang.
Tidak hanya mengandalkan sumur eksisting hingga 2038, PHE NSO juga terus memperluas kapasitas produksi melalui penerapan inovasi teknologi dan eksplorasi baru. Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, perusahaan tetap optimistis bahwa melalui efisiensi, inovasi, dan kolaborasi, mereka mampu mempertahankan kontribusinya terhadap pasokan energi nasional dan keberlanjutan industri energi di Indonesia.