Bisnis.com, PALEMBANG - Momen lebaran di Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) semakin meriah. Tradisi Midang Bebuke, yang merupakan warisan budaya lokal, kembali hadir untuk memeriahkan suasana Hari Raya Idulfitri.
Pada tahun ini tradisi arak-arakan menggunakan pakaian pengantin oleh muda mudi itu semakin semarak dengan hadirnya lomba sastra tutur yang disebut Cang Incang.
Tujuan utama Midang Bebuke adalah sebagai ajang memperkenalkan pakaian adat, baik adat perkawinan maupun pakaian tradisi keseharian masyarakat Kayuagung secara turun-temurun.
Pada Midang Bebuke tahun ini, puluhan pasang pengantin terlihat berjalan menyusuri Sungai Komering diiringi musik jidur dari masing-masing kelurahan dan berakhir (finis) di halaman Pantai Love Kelurahan Sida Kersa, Kayuagung.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata OKI, Ahmadin Ilyas, menjelaskan secara pelaksanaan bentuk Midang terdapat dua versi.
Pertama, Midang Begorok yang ditujukan untuk persedekahan baik dalam bagian pernikahan maupun acara khitanan, dan merupakan syarat perkawinan mabang handa.
Baca Juga
"Sementara Midang Bebuke, arak-arakan muda mudi yang dilaksanakan setiap hari raya idul fitri untuk memperkenalkan pakaian aat, baik adat perkawinan maupun pakaian tradisi keseharian masyarakat suku Kayuagung,” kata Ahmadin Ilyas, dikutip Kamis (3/4/2025).
Menurutnya, seiring berjalannya waktu, tradisi Midang juga terus mengalami perkembangan hingga menjadi sebuah agenda pariwisata di OKI.
"Bahkan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan resmi menetapkan tradisi tersebut sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB)" imbuhnya.
Bupati OKI Muchendi mengatakan Midang dan Cang Incang bukan hanya milik masyarakat OKI, tapi telah berkembang menjadi warisan budaya tak benda nasional.
Sehingga keberadaan Midang dan Cang Icang dipandang perlu untuk dijaga dan dilestarikan kepada para generasi penerus.
"Midang merupakan jati diri dan identitas tidak hanya bagi masyarakat OKI tapi juga warisan budaya nasional yang jadi perekat bangsa," kata Muchendi.
Sastra Tutur ‘Cang Incang’
Tidak hanya Midang Bebuke, Idulfitri di OKI tahun ini juga dimeriahkan dengan lomba Cang Incang yang diikuti oleh anak-anak muda generasi Z.
Cang Incang adalah sastra lisan yang diwariskan secara turun temurun oleh masyarakat Kayuagung, Sumatera Selatan.
Tradisi ini biasanya ditampilkan pada upacara pernikahan, yang memiliki ciri khas mengandung kata-kata klasik dan ungkapan-ungkapan yang mencerminkan kebudayaan masyarakat setempat.
Biasanya, Cang Icang dituturkan oleh mempelai perempuan kepada keluarganya pada saat ia akan melangsungkan acara pernikahan.
Selain itu juga dipergunakan oleh pemuka adat dalam upacara adat perkawinan masyarakat Kayuagung.
Gubernur Sumsel, Herman Deru, mengharapkan lomba Cang Incang dapat menginspirasi lebih banyak anak muda untuk mengetahui, mengerti dan mencintai nilai budaya daerah.
"Generasi muda harus tau dan bangga dengan budaya daerahnya ditengah kemajuan teknologi digital," ujarnya.